KONTRAKSI OTOT JANTUNG IKAN NILA (Oreocrhomis niloticus)
(Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Air)
Oleh
Rahmat Hidayat
0914111069
PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2011
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan jenis ikan air tawar yang telah lama dibudidayakan dan telah terdistribusi secara luas. Sistem jantung pada ikan merupakan organ sirkulasi darah dalam tubuh yang sifatnya tertutup. Jantung ikan terletak pada ruang pericardial di sebelah posteriol insang. Kontraksi otot jantung ikan merupakan salah satu sarana untuk mangkonversi energi kimia manjadi energi mekanik dalam bantuk tekanan dalam aliran darah. Secara garis besar jalannya aliran darah pada jantungikan yaitu ductus cuvieri, vena hepaticus, sinus venosusa, atrium, ventrikel, dan corus arteiosus. Sistem kerja jantung ikan memiliki dua mekanisme gerak yaitu systole dan diastole. Sistole adalah keadaan pada saat ventrikel menyempit dan berkontraksi sedangkan diastole adalah keadaan pada saat ventrikel mengembang dan relaksasi. Sinus venosis secara fungsional memiliki pace maker untuk mengatur kerja otot jantung.
1.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dilakukannya praktikum Kontraksi Otot Jantung Ikan ini adalah sebagai berikut:
1. Mengamati bagaimana kerja otot jantung tanpa pengaruh organ tubuh lain.
2. Mengetahui ketahanan jantung diluar tubuh ikan Mas.
3. Membuktikan bahwa otot jantung adalah otot lurik tetapi bekerja seperti otot polos.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ikan nila (Oreochromis niloticus)
Ikan nila adalah sejenis ikan konsumsi air tawar. Nama ilmiahnya adalah Oreochromis niloticus, dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Nile Tilapia. (Kottelat, 1993).
| Kerajaan : | |
| Filum : | |
| Kelas : | |
| Ordo : | |
| Famili : | |
| Genus : | |
| Spesies : | Oreochromis niloticus |
2.2 Jantung ikan
Jantung merupakan suatu pembesaran otot yang spesifik dari pembuluh darah atau suatu struktur muskular yang bentuknya menyerupai kerucut yang dilingkupi atau diselimuti oleh kantung perikardial (perikardium). Pada ikan terdapat di bagian restral dari hati dan bagian ventral dari rongga mulut. Jantung pada makhluk hidup berbeda-beda berdasarkan strukturnya. Jantung pada vertebrata misalnya ikan, mempunyai jantung yang terdiri dari dua ruang, yakni satu serambi (atrium) dan satu bilik (ventrikel). Jantung pada ikan amphibia dan reptil mempunyai 3 ruang utama yang terdiri dari 2 atrium dan 1 ventrikel. Jantung pada manusia, mamalia dan burung mempunyai empat ruang yakni dua ruang antrium dan dua ruang ventrikel. Otot jantung merupakan otot lurik yang bentuknya melintang dan bercabang. Sifat otot ini tidak sadar (involuntary), karena kontraksinya tidak bisa diatur oleh kemauan kita. Selain otot jantung terdapat juga otot polos (berbentuk seperti spindle). Kontraksi otot polos lebih lambat dibandingkan otot lurik, namun mereka mampu kontraksi dalam waktu lebih lama. Otot polos bersifat tidak sadar (involuntary). Otot polos ditemukan pada banyak organ tubuh, diantaranya terdapat pada dinding pembuluh darah dan melapisi organ dalam seperti usus dan uterus. Otot lurik (struktur bergaris melintang), berfungsi untuk menggerakkan rangka. Otot ini bersifat sadar (voluntary), karena mampu diatur oleh kemauan kita (Jatilaksono, 2007). Anak ikan dan ikan yang kecil mempunyai degupan jantung yang lebih cepat dibanding ikan dewasa dan besar. Degupan jantung ikan menjadi pelan apabila berada dalam air yang dingin dibandingkan dalam air yang agak panas (Meitanisyah, 2009).
Jantung ikan terletak pada ruang perikardial disebelah posterior insang, memiliki dua ruang yaitu atrium (diding yang tipis) dan ventrikel (dinding yang tebal)
Mekanisme control kerja jantung:
1. Adrenergik: merangsang jantung berkontraksi
2. Cholinergik: menyebabkan jantung relaksasi
Darah dipompa keluar selam kontraksi ventrikel (systole) dan diikuti periode relaksasi dan pengisian kembali (diatole). Sinus venosus dan atrium membantu mengisi ventrikel, dan bulbus yang memilki katub elastis menjaga aliran selama ventrikular berelaksasi (Pakde sofa, 2008).
2.3 Larutan Fisiologis
larutan fisiologis adalah larutan isotonik yang terbuat dari NaCl 0,9% yang sama dengan cairan tubuh atau darah (adhil, 2009) menurut Rustidja(1985) dalam dalam hidayaturahmah (2007) penggunaan larutan fisiologis yang mengandung NaCl dan urea karna dapat mempertahankan daya hidup spermatozoa antara 20-25 menit. larutan fisiologis lebih kecil dari NaCl 0,9 % (0,8 %; 0,6 %; 0,3 %; 0,1 %) disebut hipotonis. larutanfisiologis lbh besar dari NaCl 0,9 % ( 1 %; 2 %) disebut hipertonis. Darah bila dimasukkan ke dalam larutan hipotonis maka membran akan mengembang karena larutan hipotonis masuk ke dalam sel darah merah, kemudian pecah di satu tempat sehingga Hb keluar disebut dengan hemolisis. Darah bila dimasukkan ke dalam larutan hipertonis maka membran akan di tarik kesegala arah sehinga pecah di banyak tempat sehingga sel darah merah mengkerut akibatnya Hb juga keluar dan disebut krenasis Anonim (2010).
III. METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum Fisiologi Hewan Air, Kontraksi Otot Jantung Ikan dilaksanakan pada tanggal 20 April 2011 pada pukul 13.00 WIB sampai dengan pukul 15.00 WIB di Laboratorium Bioteknologi, Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat bedah, cawan Petri, stopwatch, baki, kaca pembesar, timbangan, lap atau tisu, dan alat tulis. Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah ikan Nila aquades, ditergen, larutan fisiologis.
3.2 Langkah Kerja
Adapun langkah kerja pada praktikum kontraksi otot jantung ikan ini adalah sebagai berikut:
1. Terlebih dahulu ikan nila yang masih hidup dipingsankan dengan cara menusuk bagaian saraf otaknya dengan jarum pentul.
2. Ikan dibedah dengan menggunakan gunting bedah, dimulai dari anus kearah depan sampai ke insang.
3. Setelah itu organ jantung dipisahkan dan diambil kemudian diletakkan dalam cawan Petri yang berisi sedikit larutan/ bahan yang digunakan.
4. Dilakukan pengamatan dengan menghitung detak jantung ikan setiap menit sampai jantung ikan tidak berdetak lagi.
5. Di berikan larutan NaCl fisiologis setiap 10 menit sekali.
6. Pengamatan selesai dilakukan setelah jantung tidak berdetak lagi.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
| Menit Ke | ∑ Detakan | Keterangan |
| 10:00 | 312 x | Detak Cepat |
| 20:00 | 200 x | Mulai Melambat |
| 25:29 | 115 x + = 627 x | Lambat Dan Berhenti Berdetak. |
4.2 Pembahasan
Meskipun jantung sudah diangkat dari tubuh ikan dan diletakkan di cawan petri, ternyata jantung ikan masih tetap berdegub hal ini di akibatkan karena adanya otot polos yang bekerja seperti otot lurik yaitu kerjanya tidak dipengaruhi syaraf otak. Namun deguban jantung ikan nila yang sudah dikeluarkan lajunya lebih lambat daripada deguban jantung ikan nila pada kondisi normal. Deguban jantung pada praktikum ini paling tinggi pada ikan nila mencapai 312 x detakan. Pada perlakuan hipoosmotik dengan menggunakan larutan fisiologis menunjukkan jantung ikan nila memiliki ketahanan yang lebih cepat yaitu dalam waktu 10 menit dan 312 x detakan jantung per menitnya dan berhenti pada menit ke-25:29. Hal ini terjadi karena pada perlakuan aquades keadaan tekanan jantung diluar berbeda seperti keadaan jantung ketika di dalam tubuh ikan sehingga energi yang dipakai jantung hanya untuk dapat bertahan dengan kondisi lingkungan yang isoosmotik sehingga jantung dapat bekerja cukup maksimal namun laju detakanya lebih rendah dari kondisi normal.
Pada praktikum kali ini menggunakan larutan akuades bertujuan mengetahui detak jantung pada kondisi air murni tanpa bahan organik. pada l arutan fisiologis digunakan untuk mengukur daya tahan jantung pada keadaan yang mirip dengan lingkugan sebenarnya. sedangkan pada salinitas yang berbeda beda digunakan untuk mengetahui reaksi yang ditimbulkan oleh jantung pada berbagai salinitas. Daya tahan detak jantung ikan nila berbeda dengan jantung ikan mas. Pada ikan mas daya tahanya lebih tinggi dibandingkan dengan ikan nila. namun pada ikan nila kecepatn detak jantungnya lebih tinggi dikarenakan jantung ikan nila lebih sulit menyesuaikan dengan lingkungan akibatnya energy yang digunakan lebih banyak dan jantung lebih cepat berhenti.
Pada larutan fisiologis jantung ikan berdetak lebih lama sedangkan pada larutan bersalinitas gerakan denyut jantung cepat tapi lebih cepat berhenti pula. Hal ini karena pada larutan fisiologis terkandung bahan yang komponenya lebih mirip dengan cairan yang ada pada tubuh ikan tersebut. sehingga energi yang digunakan jantung lebih sedikit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. sedangkan pada larutan bersalinitas berbeda dengan kondisi cairan dalam tempat tinggal jantung sebelumnya sehingga jantung perlu menyesuaikan diri kembali dengan lingkunganya. Akibatnya energi jantung banyak digunakan dan bekerja lebih berat akhirnya daya tahan jantung lebih cepat habis. jantung ikan terus dapat berdetak meskipun telah dikeluarkan hal ini karena jantung bekerja dibawah kendali saraf otonom sehingga ikan sendiri tidak dapat mengontrol kerja otot jantung. Faktor faktor yang mempengaruhi detak jantung ikan diantaranya adalah ukuran jantung, suhu, cairan isoosmotik dengan jantung. Fungsi larutan fisiologis diantaranya untuk mengetahui daya tahan maksimal detak jantung diluar tubuh yang dimanipulasi sehingga mirip dengan didalam tubuh ikan diantaranya seperti zat nutrisi, natrium oksigen dll. Peranan jantung sangat penting dalam hubunganya dengan pemompaan darah keseluruh tubuh melalui sistem sirkulasi darah, sirkulasi darah adalah sistem yang berfungsi dalam pengangkutan dan penyebaran enzim, zat nutrisi, oksigen, karbondioksida, garam-garam, antibodi dan senyawa N, dari tempat asal keseluruh bagian tubuh sehingga diperlukan tekanan yang cukup untuk menjamin aliraqn darah sampai ke bagain-bagian jaringan jaringan tubuh (Groman dalam Afandi dan Tang, 2002).
V. KESIMPULAN
5.1 kesimpulan.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka dapat kita ambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. jantung merupakan otot lurik yang bekerja seperti otot polos yang terbukti dalam suatu pengamatan.
2. jantung yaitu sebagai sistem metabolisme dan peredaran darah yang sangt baik.
3. Kerja otot tanpa pengaruh bantuan organ tubuh lain tidak akan berjalan dengan baik.
4. Pada hasil pengamatan, jumlah detakan paling banyak adalah pada larutan fisiologis pada ikan nila.
5. Sistem kerja jantung ikan memiliki dua mekanisme gerak yaitu sistole (keadaan pada saat ventrikel menyempit dan berkontraksi), dan diastole (keadaan pada saat ventrikel mengembang ban berelaksasi).
6. larutan yang diteteskan pada cawan petri untuk meletakkan jantung ikan berfungsi sebagai media cadangan energi bagi jantung tersebut.
7. Jantung pada ikan yang berat tubuhnya lebih tinggi memiliki energi yang lebih banyak untuk berdetak.
8. Jantung ikan yang berukuran kecil memiliki detak jantung lebih cepat.
9. Jantung ikan diluar tubuh dapat bertahan paling lama pada larutan fisiologi.
5.2 Saran
Adapun saran demi kemajuan praktikum ini adalah:
1. Tingkatkan kesadaran dan saling menghormati antara pratikan dan asdos, agar terjaga kerja sama dengan baik.
2. Asdos mampu menguasai ruangan agar tidak terjadi kegaduhan oleh pratikan.
3. Harapannya kelengkapan alat alat praktikan dapat terpenuhi hingga memudahkan kita dalam pelaksanaan praktikan.
4. Saya berharap agar pada praktikum ini ikan yang digunakan ada yang dari laut juga.
5. Kakak/mbak asdos, harapannya tetap semangat berbagi ilmu dengan adik adiknya, Amin.
DAFTAR PUSTAKA
Dikutip dari artikel berjudul otot lurik. http://www.google.com/otot_lurik.htm. Diakses pada tanggal 26 april 2011 pukul 10.00 WIB.
Hanafiah K.A. 1991. Biologi ikan air tawar. Rajawali Press. Jakarta.
Jatilaksono, Marsandre. 2007. Kontraksi Otot Jantung Ikan. Dikutip dari http://jlcome.blogspot.com. Diakses pada tanggal 15 Mei 2009. Pukul 13.00 WIB.
Kottelat, M.; A.J. Whitten; S.N. Kartikasari & S. Wirjoatmodjo. 1993. Freshwater Fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Periplus, Jakarta.
Meitanisyah. 2009. Anantomi dan Fisiologi Ikan. Dikutip dari http://www.bloggaul.com/meitanisyah/. Diakses pada tanggal 24 Mei 2009. Pukul 15.00 WIB.
Pakde Sofa. 2008. Materi Pokok Fisiologi Hewan. Dikutip dari http://massofa.wordpress.com/. Diakses pada tanggal 15 Mei 2009 Pukul 13.00 WIB.
Tang. U.M. dan R Affandi. 2001. Biologi Reproduksi Ikan. P2kp2 Unri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar