PRESERVASI SPERMA DAN EMBRIOGENESIS IKAN LELE
(Laporan Praktikum Fisiologi Reproduksi Hewan Air)
Oleh
Rahmat Hidayat
0914111069
PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2011
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus Burchell) adalah merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang sudah bisa dibudidayakan. Bila dibandingkan dengan jenis ikan air tawar lainnya, ikan lele dumbo memiliki beberapa keunggulan yaitu pertumbuhannya yang sangat cepat, mudah dipelihara, tahan terhadap kondisi air yang buruk, memiliki nilai gizi dan nilai ekonomis yang cukup tinggi.
Dalam usaha budidaya ikan lele dumbo, ketersediaan benih dalam kualitas dan kuantitas yang cukup merupakan faktor mutlak yang sangat menentukan keberhasilan usaha. Untuk mendapatkan benih yang berkualitas baik dalam jumlah yang cukup dan berkesinambungan, haruslah melalui pembenihan secara terkontrol yaitu dengan melakukan pemijahan secara buatan (induced breeding) yang diikuti dengan pembuahan buatan (artificial fertilization).
Kematangan gonad pada ikan jantan dan betina seringkali tidak terjadi secara bersamaan waktunya dan seringkali didapatkan jumlah sperma sedikit sehinggan tidak cukup untuk pembuahan. Akibatnya, reproduksi benih tidak mencukupi. Kendala ini perlu diatasi. Di antara usaha yang dapat dilakukan dengan preservasi sperma. Preservasi atau pengawetan sperma merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mengatasi masalah keterbatasan sperma pada saat tertentu dalam suatu budidaya.
Penyimpanan atau preservasi sperma dilakukan dengan tujuan untuk mempermudah pemurnian dan pembastaran antara satu ras ikan dengan lainnya serta mempercepat usaha introduksi dan domestikasi ikan liar yang dipertimbangkan baik untuk dibudidayakan (Suseno dan Harjamulia, 1982 dalam Hartono, 1999). Adapun tujuan lainnya adalah agar adanya pengendalian keterbatasan penyedian induk jantan, memungkinkan terjadinya pembuahan walaupun kematangan gonad induk jantan dan betina selalu terjadi secara bersamaan, sediaan genetik dan memudahkan dalam melakukan pemuliaan ikan, memudahkan distribusi transportasi sperma ikan dalam jumlah besar ke suatu daerah lain, memungkinkan untuk menghasilkan benih sepanjang tahun.
Dalam proses pembuahan, spermatozoa masuk ke dalam telur melalui lubang microphyle yang terdapat pada chorion. Tetapi spermatozoa mempunyai kesempatan yang sama untuk membuahi satu telur. Telur dan sperma yang baru di keluarkandari tubuh induk, mengeluarkan zat kimia yang berguna dalam proses pembuahan (Effendie, 1997).
B. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum yang telah dilakukan adalah untuk mengetahui teknik pembuahan secara buatan, inkubasi telur (perkembangan embrio), dan mengetahui ketahanan sperma ikan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Sanin (1984) dan Simanjuntak (1989) dalam Rustidja (1997) klasifikasi ikan lele dumbo adalah sebagai brikut:
Kingdom : Animalia
Phylum : Vertebrata
Class : Pisces
Sub Class : Teleostei
Ordo : Ostariophysoidei
Sub Ordo : Siluroidea
Family : Claridae
Genus : Clarias
Spesies : Clarias gariepinus
Menurut Najiyati (1992), dalam Rustidja (1997) bentuk luar ikan lele dumbo yaitu memanjang, bentuk kepala pipih dan tidak bersisik. Mempunyai sungut yang memenjang yang terletak di seitar kepala sebagai alat peraba ikan. Mempunyai alat olfactory yang terletak berdekatan dengan sungut hidung . Penglihatannya kurang berfungsi dengan baik. Ikan lele dumbo mempuyai 5 sirip yaitu sirip ekor, sirip punggung, sirip dada, dan sirip dubur. Pada sirip dada jari-jarinya mengeras yang berfungsi sebagai patil, tetapi pada lele dumbo lemah dan tidak beracun. Insang berukuran kecil, sehingga kesulitan jika bernafas. Selain brnafas dengan insang juga mempunyai alat pernafasan tambahan (arborencent) yang terletak padainsang bagian atas.
Preservasi atau pengawetan sperma merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mengatasi masalah keterbatasan sperma pada saat tertentu dalam suatu budidaya.
Penyimpanan atau preservasi sperma dilakukan dengan tujuan untuk mempermudah pemurnian dan pembastaran antara satu ras ikan dengan lainnya serta mempercepat usaha introduksi dan domestikasi ikan liar yang dipertimbangkan baik untuk dibudidayakan (Suseno dan Harjamulia, 1982 dalam Hartono, 1999).
Penyimpanan atau preservasi sperma dilakukan dengan tujuan untuk mempermudah pemurnian dan pembastaran antara satu ras ikan dengan lainnya serta mempercepat usaha introduksi dan domestikasi ikan liar yang dipertimbangkan baik untuk dibudidayakan (Suseno dan Harjamulia, 1982 dalam Hartono, 1999).
Embrio (bahasa Yunani: έμβρυον) adalah sebuah eukariota diploid multisel dalam tahap paling awal dari perkembangan.
Dalam organisme yang berkembang biak secara seksual, ketika satu sel sperma membuahi ovum, hasilnya adalah satu sel yang disebut zigot yang memiliki seluruh DNA dari kedua orang tuanya. Dalam tumbuhan, hewan, dan beberapa protista, zigot akan mulai membelah oleh mitosis untuk menghasilkan organisme multiselular. Hasil dari proses ini disebut embrio.
Pada hewan, perkembangan zigot menjadi embrio terjadi melalui tahapan yang dikenal sebagai blastula, gastrula, dan organogenesis.
Blastula (dari bahasa Yunani (blastos), yang berarti "tumbuh") adalah tahap awal embrio pembangunan di hewan .
Dalam organisme yang berkembang biak secara seksual, ketika satu sel sperma membuahi ovum, hasilnya adalah satu sel yang disebut zigot yang memiliki seluruh DNA dari kedua orang tuanya. Dalam tumbuhan, hewan, dan beberapa protista, zigot akan mulai membelah oleh mitosis untuk menghasilkan organisme multiselular. Hasil dari proses ini disebut embrio.
Pada hewan, perkembangan zigot menjadi embrio terjadi melalui tahapan yang dikenal sebagai blastula, gastrula, dan organogenesis.
Blastula (dari bahasa Yunani (blastos), yang berarti "tumbuh") adalah tahap awal embrio pembangunan di hewan .
Hal ini juga disebut blastosphere.. Hal ini dihasilkan oleh pembelahan yang dibuahi sel telur dan terdiri dari lapisan bola sekitar 128 sel dengan penuh cairan-ruang besar yang disebut blastocoele di kutub hewan embrio. blastula ini mengikuti morula dan mendahului gastrula dalam urutan perkembangan. Ikan lele (Clarias batrachus) pertama kali matang kelamin pada umur satu tahun (Chinabut et al. 1991) dengan ukuran panjang tubuh sekitar 20 cm dan ukuran berat tubuh 100 sampai 200 gram (Mollah dan Tan 1983; Suyanto 1986).
III. METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Pelaksanaan praktikum ini dilakukan pada hari Jumat tanggal 6 Mei 2011 di Gedung Bioteknologi Laboratorium Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.
B. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini ialah: alat bedah, sendok, cawan petri, bulu ayam, mangkok, aquarium, aerator, kertas tissue, heater, ikan lele jantan dan betina, ovaprim, MB, garam, larutan fisiologis.
C. Metode Kerja
Fertilisasi
§ Menyiapkan ikan lele indukan yang telah matang gonad.
§ Menyiapkan wadah untuk telur.
§ Mengurut perut ikan lele betina kearah belakang dan telur ikan ditampung di dalam wadah.
§ Membedah perut ikan jantan untuk di ambil gonadnya.
§ Telur dan sperma di satukan dalam wadah dan diaduk mengunakan bulu ayam.
§ Tambahkan larutan fisiologis
Embrogenesis
§ Telur yang telah disatukan di tempelkan pada cawan petri.
§ Tulur di letakan dalam aquarium dengan mengunakan hiter dengan suhu 300C.
§ Diberi MB secukupnya pada iar aquarium.
§ Ambil sampel 2-3 larva diletakan dicawan perti.
§ Diamati setiap 20 menit sekali dibawah microskop.
Preservasi sperma
§ Ambil 1 sendik sperma dan ditambahkan NaCL secukupnya.
§ Diamati dibawah microskop setiap 1menit sampai imotil.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Hasil pada praktikum kali ini gagal. Dikarnakan ikan jantan yang belum matang gonad, dan terlalu lama trekena udara saat memindahkan telur dari lab basah ke lantai atas bioteknologi. Terlihat saat telur telah direndam dalam aquarium, beberapa telur putih memucat dan sebagian berwarna kuning. Telur yang berwarna putih mungkin terlalu benyak terkena benturan saat pencampuran sperma dan telur.
Pada sperma ikan setelah beberapa dari kelompok di teliti di bawah microskop, tidak ditemukan adanya zigot yang hidup atau bergerak. Hal ini diperkuat saat tak ada telur yang menetas atau di buahi hingga dapat di simpulkan bahwa praktikan gagal pada praktikum kali ini.
B. Pembahasan
Sel sperma adalah sel padat yang tidak tumbuh atau membelah diri. Sel sperma hanya bertujuan untuk membuahi sel telur. Jumlah Sperma yang dihasilkan oleh ikan jantang beraneka ragam volum dan maupun kualitasnya, hal ini dipengaruhi oleh umur, ukuran dan frekuensi pengeluaran sperma (Kazakou, 1981 dalam Sutrisna, 2002) selain tiu faktor eksternal lain yang mempengaruhi adalah musim, frekuensi pemijahan, jumlah ikan betina yang akan dibuahi dan konsisi pemijahan. Sperma bergerak dengan bantuan bagian ekornya. Sperma yang berkualitas akan bergerak melawan aliran air.
Faktor luar yang yang berpengaruh terhadap penetasan telur ikan adalah suhu, oksigen terlarut, pH, salinitas dan intensitas cahaya. Proses penetasan umumnya berlangsung lebih cepat pada suhu yang lebih tinggi karena pada suhu yang tinggi proses metabolismo berjalan lebih cepat sehingga perkembangan embrio akan lebih cepat yang berakibat lanjut pada pergerakan embrio dalam cangkang yang lebih intensif. Namur demikian, suhu yang terlalu tinggi atau berubah mendadak dapat menghambat proses penetasan dapat menyebabkan kematian embrio dan kegagalan penetasan. Suhu yang baik untuk penetasan ikan 27 – 300C.
Kelarutan oksigen terlarut dan intensitas cahaya akan mempengaruhi proses penetasan. Oksigen dapat mempengaruhi sejumlah organ embrio. Cahaya yang kyat dapat menyebabkan laja penetasan yang cepat, kematian dan pertumbuhan embrio yang jelek serta figmentasi yang banyak yang berakibat pada terganggunya proses penetasan.
Telur yang telah dibuahi berwarna kuning cerah kecoklatan, sedangkan telur yang tidak dibuahi berwarna putih pucat. Di dalam proses penetasan telur diperlukan suplai oksigen yang cukup. Untuk memenuhi kebutuhan akan oksigen terlarut dalam air, setiap bak penetasan di pasang aerasi.
Telur akan menetas tergantung dari suhu air bak penetasan dan suhu udara. Jika suhu semakin panas, telur akan menetas semakin cepat. Begitu juga sebaliknya, jika suhu rendah, menetasnya semakin lama. Telur ikan lele dumbo, ikanpatin dan bawal akan menetas menjadi larva antara 18 –24 jam dari saat pembuahan. Sumantadinata (1983) mengatakan faktor-faktor yang mempengaruhi daya tetas telur adalah :
1.Kualitas telur. Kualitas telur dipengaruhi oleh kualitas pakan yang diberikan pada induk dan tingkat kematangan telur.
2.Lingkungan yaitu kualitas air terdiri dari suhu, oksigen, karbon-dioksida, amonia, dll.
3.Gerakan air yang terlalu kuat yang menyebabkan terjadinya benturan yang keras di antara telur atau benda lainnya sehingga mengakibatkan telur pecah.
V. Kesimpulan Dan Saran
A. Kesimpulan
Berdasarkan pada hasil penelitian yang telah lakukan mengenai embriogenesis telur ikan lele (Clarias sp), bahwa kegagalan pada saat praktikum mingkin disebabkan karena kurang kehati-hatian saat mengambil gonad dan mencapurkan keduanya. Hal ini ditunjukkan dengan kematian semua telur ikan setelah di teliti hingga praktikum ini dapat dikatakan gagal.
B. Saran
Setelah mengambil kesimpulan dari penelitian ini, penulis menyarankan hendaknya para praktikan lebih berhati-hati dalam bekerja dan dibutuhkan kekompakan antar kelompok agar memperhatikan setiap perkembangan yang dapat terjadi di kelompok masing-masing. Sehingga pada praktikum ini dapat menghasilkan hasil yang memuaskan.
DAFTAR PUSTAKA
Arfiati, D. 2005. Anatomi Ikan. Fakultas Perikanan. Universitas Brawijaya. Malang. 103 Hal.
Kabakov, A.E. and Vladimir L.G. 1997. Heat Shock Protein And Cytoprotection: Atp Deprived Mammalian Cells. R.G. Landes Company. Austin. 237 Hal.
Khairuman, dan Khirul, A. 2002. Budidaya Lele Dumbo Secara Intensif. Agromedia Pustaka. Jakarta. 79 Hal.
Mudjiman, A. 1994. Budidaya Ikan Lele. Agromedia. Jakarta.
Murtidjo, 2001. Beberapa Metode Pembenihan Air Tawar. Kanisius. Yogyakarta.
Mahyuddin, K. 2007. Panduan Lengkap Agribisnis Lele. Jakarta: Penebar Swadaya
Najiyati, S. 1992. Memelihara Lele Dumbo di Kolam Taman. Penebar Swadaya. Jakarta.
Suyanto, S.R. 2006. Budidaya Ikan Lele. Jakarta: Penebar Swadaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar