Senin, September 19, 2011

Penemuan Fosil Hidup Berumur 200 Juta Tahun

Belut ini memiliki banyak keunggulan yang dimiliki belut primitif.

Belut ini memiliki banyak keunggulan yang dimiliki belut primitif yang hidup di era awal Mesozoikum, saat dinosaurus menguasai bumi. (theweek.com)

Ahli biologi melaporkan sebuah spesies belut baru yang ditemukan dalam gua bawah laut sedalam 35 meter di tepi sebuah pulau di negara Palau, Pasifik Barat. Para ahli menyebutnya sebagai fosil hidup yang mirip dengan belut pertama yang berenang sekitar 200 juta tahun yang lalu.

Seperti dikutip dari Daily Telegraph, 20 Agustus 2011, temuan itu dipublikasikan dalam jurnal Proceeding Royal Society B. Penemuan sendiri itu terjadi Maret tahun lalu oleh tim yang dipimpin oleh Masaki Miya dari Institut Sejarah Museum Alam di Chiba, Jepang.

Spesies belut yang ditemukan berwujud ikan kecil berwarna cokelat yang berbeda dengan karakteristik anatomi belut modern. Sebaliknya, ia memiliki banyak keunggulan yang dimiliki belut primitif yang hidup di era awal Mesozoikum, saat dinosaurus menguasai bumi.

Kesamaannya di antaranya adalah ukuran kepala yang tidak proporsional, tubuh terkompresi menjadi pendek, kerah seperti bukaan pada insang, sinar pada sirip ekor dan ujung tulang rahang yang disebut premaxilla. Temuan ini sendiri sangat luar biasa dan bahkan belut tersebut dimasukkan ke dalam satu spesies terpisah, yakni Protoanguilla Palau.

Ketika pertama dijumpai, menggunakan jaring tangan dan lampu, peneliti mengumpulkan delapan contoh belut yang memiliki panjang sekitar panjang  6-9 centimeter tersebut. Setelah itu, tes DNA dilakukan untuk menilai sejarah genetik belut.

Menurut penelitian, sampai saat ini, Palau merupakan satu-satunya tempat penemuan spesies tersebut. Meski demikian, peneliti memperkirakan, distribusi belut ini masih cukup luas.

Sebagai informasi, Charles Darwin menyebut dengan istilah fosil hidup untuk menggambarkan spesies yang masih selamat hingga saat ini meski telah turun temurun selama jutaan tahun.

 

Sumber : www.vivanews.com

Rabu, September 14, 2011

Ilmuwan Temukan Ikan Predator Kuno Menyeramkan

 
Ilmuwan berhasil menemukan spesies ikan predator yang hidup di laut 375 juta tahun silam. Layaknya predator, ikan ini menunggu mangsa di dasar dan menggigitnya.
Ikan berhasil diidentifikasi dari temuan fosil di Kanada. Ilmuwan di Academy of Natural Sciences mengatakan, makhluk ini menghuni jalan air kuno Amerika Utara selama periode Devonian, tepat sebelum hewan bertulang belakang muncul. Periode Devonian yang dimulai dari 360-415 juta tahun silam ini sering disebut-sebut sebagai Era Ikan. Hal ini dikarenakan seperti ditulis UPI, saat itu ragam bentuk akuatik yang menghuni laut, laguna dan aliran kuno sangat kaya dan beragam.

Ikan bernama Laccognathus Embryi ini tumbuh sepanjang 1,5-2 meter dengan kepala lebar dan mata kecil serta rahang kuat dengan barisan gigi tajam. “Jelas sekali ekosistem Devonian sangat keras dan ikan ini menjadi penghuni dasar dan menjadi predator yang duduk manis menunggu mangsanya kemudian digigit dengan rahang kuatnya,” ujar peneliti Edward Daeschler.
Fosil ini ditemukan di Ellesmere Island di daerah terpencil Nunavut Territory Arktik Kanada. [mor]

Mengapa Ikan di Antartika Tak Membeku?



Air dingin di Samudera Antartika seharusnya cukup untuk membekukan darah ikan. Namun ikan-ikan di sana tak membeku. Mengapa?

Hal itu berkat antibeku alami yang dimiliki ikan, sehingga memungkinkan darah terus mengalir. Padahal suhu beku Samudera Antartika minus 1,8 derajat Celcius. Suhu ini lebih rendah dari titik beku darah ikan, minus 0,9 derajat C. Bagaimana ikan mampu terus bergerak di suhu itu, membingungkan peneliti selama lebih dari 50 tahun. Hingga protein perlindungan beku khusus ditemukan dalam darah ikan. Protein antibeku ini bekerja lebih baik dari antibeku rumah.

Namun cara kerja antibeku ini masih belum jelas. Pada pertanyaan kimia, para ilmuwan mempelajari protein antibeku Toothfish Antartika (Dissostichus mawsoni) yang ditangkap salah satu peneliti saat ekspedisi Antartika. Para ilmuwan menggunakan teknik khusus mencatat gerakan molekul air yang tercampur protein antibeku ikan. Kehadiran protein antibeku ini membuat molekul air menari dengan tarian yang lebih teratur dibanding seharusnya.

Protein antibeku ini menganggu molekul-molekul air sehingga tak bisa terikat dan membentuk kristal es. "Tarian disko itu menjadi minuet,” kata anggota tim studi Martina Havenith dari Ruhr University Bochum di Jerman.
Penelitian ini diterbitkan Journal of American Chemical Society. [vin]

Perubahan Iklim Bikin Kepiting Raksasa 'Ngamuk' - teknologi.inilah.com

Perubahan Iklim Bikin Kepiting Raksasa 'Ngamuk' - teknologi.inilah.com

Ikan Buas dari Afrika

Goliath Tigerfish (Mbenga), Ikan Buas dari Afrika

ferocious giant piranha which has been known to eat CROCODILES
Goliath tigerfish atau Mbenga (Hydrocynus goliath) merupakan ikan predator raksasa yang ditemukan di sungai Kongo di Afrika. Ikan “Piranha raksasa Afrika” ini dikabarkan pernah menyerang manusia dan bisa memangsa buaya.
Klasifikasi Goliath tigerfish atau Mbenga (Hydrocynus goliath)
Kingdom Animalia C. Linnaeus, 1758 - animals
Phylum Chordata Bateson, 1885 - chordates
Class Actinopterygii Klein, 1885 - Ray-finned fishes
Order Characiformes
Family Alestiidae - African tetras
Genus Hydrocynus Cuvier, 1816
Species Hydrocynus goliath Boulenger, 1898) - Giant Tigerfish
Sinonim
Hydrocynus vittiger (Boulenger, 1907)
Hydrocyon goliath Boulenger, 1898
Hydrocyon vittatus Boulenger, 1898
Hydrocyon vittiger Boulenger, 1907
Jika Amerika Selatan punya piranha, Afrika punya ikan serupa yakni tigerfish. Meski datang dari spesies yang sangat berbeda, kedua ikan tersebut terkenal sangat buas saat sedang memburu mangsanya. Namun berbeda dengan piranha, tigerfish memiliki 32 gigi yang tersusun secara jarang yang saling mengunci antara gigi atas dengan bawah serta tubuh berotot yang didesain untuk bergerak secara cepat.
Uniknya, ikan ini memiliki kantung berisi udara di tubuhnya yang berfungsi sebagai sound receiver. Alat ini mentransmisikan getaran dari air hingga memungkinkan tigerfish mendeteksi akan adanya hewan di sekitar dan mengambil tindakan yang tepat.
Sekelompok tigerfish bisa menangkap hewan dengan ukuran apapun, termasuk hewan darat yang berada terlalu dekat di pinggir sungai. Tigerfish dewasa umumnya berburu dalam kelompok kecil, terdiri dari 4-5 ekor ikan, namun cukup berbahaya. Sebagai gambaran, satu ekor tigerfish bisa menangkap mangsa yang memiliki ukuran sebesar tubuhnya sendiri.
Angler Jeremy Wade, seorang pemancing profesional asal Inggris merupakan satu dari sedikit orang yang berhasil menangkap ikan tersebut. Ia berhasil mengalahkan tigerfish berukuran panjang 5 kaki atau sekitar 1,5 meter berbobot 45Kg setelah berupaya menangkapnya selama 8 hari.
Jeremy Wade bravely poses with the 5ft long goliath tigerfish caught during an expedition up the River Congo in Africa
“Ikan ini sangat jarang dan sulit ditangkap karena ia tinggal di kawasan yang sangat terpencil dan sulit dijangkau,” kata Wade, seperti dikutip dari River Monsters, 29 Maret 2011. “Tidak ada pemandu ataupun penginapan di kawasan sekitar tempat tinggal ikan ini di sungai Congo,” ucapnya.
Wade menyebutkan, ikan ini juga sangat berbahaya untuk ditangkap. “Jika Anda tidak berhati-hati, ia dapat dengan mudah mencopot jari Anda atau lebih buruk lagi,” ucapnya.
Saat makanan jarang ditemui dan persaingan untuk mendapatkan mangsa sangat berat, tigerfish juga dapat melakukan kanibalisme. Menurut penelitian, hal ini umum terjadi, khususnya di musim kering.
Ikan ini juga diketahui menyerang manusia dan juga buaya. Serangan tigerfish bisa mematikan karena giginya yang tajam dan taktik berburunya yang sangat agresif. 
The ferocious 'giant piranha' was caught during the filiming of ITV's River Monsters
referensi:
  • teknologi.vivanews.com/news/read/212014-tigerfish--ikan-buas-asal-afrika
  • www.dailymail.co.uk/news/article-1322118/Jeremy-Wades-goliath-tigerfish-British-fisherman-grapples-giant-piranha.html
  • en.wikipedia.org/wiki/Hydrocynus_goliath
  • www.biolib.cz/en/taxonposition/id159913/

Senin, September 05, 2011





KONTRAKSI OTOT JANTUNG IKAN NILA (Oreocrhomis niloticus)
 (Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Air)



Oleh
Rahmat Hidayat
0914111069

 


PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2011




I.       PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan jenis ikan air tawar yang telah lama dibudidayakan dan telah terdistribusi secara luas. Sistem jantung pada ikan merupakan organ sirkulasi darah dalam tubuh yang sifatnya tertutup. Jantung ikan terletak pada ruang pericardial di sebelah posteriol insang. Kontraksi otot jantung ikan merupakan salah satu sarana untuk mangkonversi energi kimia manjadi energi mekanik dalam bantuk tekanan dalam aliran darah. Secara garis besar jalannya aliran darah pada jantungikan yaitu ductus cuvieri, vena hepaticus, sinus venosusa, atrium, ventrikel, dan corus arteiosus. Sistem kerja jantung ikan memiliki dua mekanisme gerak yaitu systole dan diastole. Sistole adalah keadaan pada saat ventrikel menyempit dan berkontraksi sedangkan diastole adalah keadaan pada saat ventrikel mengembang dan relaksasi. Sinus venosis secara fungsional memiliki pace maker untuk mengatur kerja otot jantung.

1.2  Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dilakukannya praktikum Kontraksi Otot Jantung Ikan ini adalah sebagai berikut:
1.      Mengamati bagaimana kerja otot jantung tanpa pengaruh organ tubuh lain.
2.      Mengetahui ketahanan jantung diluar tubuh ikan Mas.
3.      Membuktikan bahwa otot jantung adalah otot lurik tetapi bekerja seperti otot polos.
II.    TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ikan nila (Oreochromis niloticus)
Ikan nila adalah sejenis ikan konsumsi air tawar. Nama ilmiahnya adalah Oreochromis niloticus, dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Nile Tilapia. (Kottelat, 1993).
Kerajaan :
Filum       :
Kelas       :
Ordo        :
Famili      :
Genus      :
Spesies    :
Oreochromis niloticus

2.2 Jantung ikan
Jantung merupakan suatu pembesaran otot yang spesifik dari pembuluh darah atau suatu struktur muskular yang bentuknya menyerupai kerucut yang dilingkupi atau diselimuti oleh kantung perikardial (perikardium). Pada ikan terdapat di bagian restral dari hati dan bagian ventral dari rongga mulut. Jantung pada makhluk hidup berbeda-beda berdasarkan strukturnya. Jantung pada vertebrata misalnya ikan, mempunyai jantung yang terdiri dari dua ruang, yakni satu serambi (atrium) dan satu bilik (ventrikel). Jantung pada ikan amphibia dan reptil mempunyai 3 ruang utama yang terdiri dari 2 atrium dan 1 ventrikel. Jantung pada manusia, mamalia dan burung mempunyai empat ruang yakni dua ruang antrium dan dua ruang ventrikel. Otot jantung merupakan otot lurik yang bentuknya melintang dan bercabang. Sifat otot ini tidak sadar (involuntary), karena kontraksinya tidak bisa diatur oleh kemauan kita. Selain otot jantung terdapat juga otot polos (berbentuk seperti spindle). Kontraksi otot polos lebih lambat dibandingkan otot lurik, namun mereka mampu kontraksi dalam waktu lebih lama. Otot polos bersifat tidak sadar (involuntary). Otot polos ditemukan pada banyak organ tubuh, diantaranya terdapat pada dinding pembuluh darah dan melapisi organ dalam seperti usus dan uterus. Otot lurik (struktur bergaris melintang), berfungsi untuk menggerakkan rangka. Otot ini bersifat sadar (voluntary), karena mampu diatur oleh kemauan kita (Jatilaksono, 2007). Anak ikan dan ikan yang kecil mempunyai degupan jantung yang lebih cepat dibanding ikan dewasa dan besar. Degupan jantung ikan menjadi pelan apabila berada dalam air yang dingin dibandingkan dalam air yang agak panas (Meitanisyah, 2009).

Jantung ikan terletak pada ruang perikardial disebelah posterior insang, memiliki dua ruang yaitu atrium (diding yang tipis) dan ventrikel (dinding yang tebal)
Mekanisme control kerja jantung:
1.      Adrenergik: merangsang jantung berkontraksi
2.      Cholinergik: menyebabkan jantung relaksasi
Darah dipompa keluar selam kontraksi ventrikel (systole) dan diikuti periode relaksasi dan pengisian kembali (diatole). Sinus venosus dan atrium membantu mengisi ventrikel, dan bulbus yang memilki katub elastis menjaga aliran selama ventrikular berelaksasi (Pakde sofa, 2008).

2.3 Larutan Fisiologis
larutan fisiologis adalah larutan isotonik yang terbuat dari NaCl 0,9% yang sama dengan cairan tubuh atau darah (adhil, 2009) menurut Rustidja(1985) dalam dalam hidayaturahmah (2007) penggunaan larutan fisiologis yang mengandung NaCl dan urea karna dapat mempertahankan daya hidup spermatozoa antara 20-25 menit. larutan fisiologis lebih kecil dari NaCl 0,9 % (0,8 %; 0,6 %; 0,3 %; 0,1 %) disebut hipotonis. larutanfisiologis lbh besar dari NaCl 0,9 % ( 1 %; 2 %) disebut hipertonis. Darah bila dimasukkan ke dalam larutan hipotonis maka membran akan mengembang karena larutan hipotonis masuk ke dalam sel darah merah, kemudian pecah di satu tempat sehingga Hb keluar disebut dengan hemolisis. Darah bila dimasukkan ke dalam larutan hipertonis maka membran akan di tarik kesegala arah sehinga pecah di banyak tempat sehingga sel darah merah mengkerut akibatnya Hb juga keluar dan disebut krenasis Anonim (2010).



III.   METODE PRAKTIKUM

3.1   Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum Fisiologi Hewan Air, Kontraksi Otot Jantung Ikan dilaksanakan pada tanggal 20 April 2011 pada pukul 13.00  WIB sampai dengan pukul 15.00 WIB di Laboratorium Bioteknologi, Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.

3.2  Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat bedah, cawan Petri, stopwatch, baki, kaca pembesar, timbangan, lap atau tisu, dan alat tulis. Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah ikan Nila aquades, ditergen, larutan fisiologis.

3.2   Langkah Kerja
Adapun langkah kerja pada praktikum kontraksi otot jantung ikan ini adalah sebagai berikut:
1.      Terlebih dahulu ikan nila yang masih hidup dipingsankan dengan cara menusuk bagaian saraf otaknya dengan jarum pentul.
2.      Ikan dibedah dengan menggunakan gunting bedah, dimulai dari anus kearah depan sampai ke insang.
3.      Setelah itu organ jantung dipisahkan dan diambil kemudian diletakkan dalam cawan Petri yang berisi sedikit larutan/ bahan yang digunakan.
4.      Dilakukan pengamatan dengan menghitung detak jantung ikan setiap menit sampai jantung ikan tidak berdetak lagi.
5.      Di berikan larutan NaCl fisiologis setiap 10 menit sekali.
6.      Pengamatan selesai dilakukan setelah jantung tidak berdetak lagi.



IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Menit Ke
∑ Detakan
Keterangan
10:00
312 x
Detak Cepat
20:00
200 x
Mulai Melambat
25:29
115 x     +
= 627 x
Lambat Dan Berhenti Berdetak.

4.2 Pembahasan
Meskipun jantung sudah diangkat dari tubuh ikan dan diletakkan di cawan petri, ternyata jantung ikan masih tetap berdegub hal ini di akibatkan karena adanya otot polos yang bekerja seperti otot lurik yaitu kerjanya tidak dipengaruhi syaraf otak. Namun deguban jantung ikan nila yang sudah dikeluarkan lajunya lebih lambat daripada deguban jantung ikan nila pada kondisi normal. Deguban jantung pada praktikum ini paling tinggi pada ikan nila mencapai 312 x detakan. Pada perlakuan hipoosmotik dengan menggunakan larutan fisiologis menunjukkan jantung ikan nila memiliki ketahanan yang lebih cepat yaitu dalam waktu 10 menit dan 312 x detakan jantung per menitnya dan berhenti pada menit ke-25:29. Hal ini terjadi karena pada perlakuan aquades keadaan tekanan jantung diluar berbeda seperti keadaan jantung ketika di dalam tubuh ikan sehingga energi yang dipakai jantung hanya untuk dapat bertahan dengan kondisi lingkungan yang isoosmotik sehingga jantung dapat bekerja cukup maksimal namun laju detakanya lebih rendah dari kondisi normal.

Pada praktikum kali ini menggunakan larutan akuades bertujuan mengetahui detak jantung pada kondisi air murni tanpa bahan organik. pada l arutan fisiologis digunakan untuk mengukur daya tahan jantung pada keadaan yang mirip dengan lingkugan sebenarnya. sedangkan pada salinitas yang berbeda beda digunakan untuk mengetahui reaksi yang ditimbulkan oleh jantung pada berbagai salinitas. Daya tahan detak jantung ikan nila berbeda dengan jantung ikan mas. Pada ikan mas daya tahanya lebih tinggi dibandingkan dengan ikan nila. namun pada ikan nila kecepatn detak jantungnya lebih tinggi dikarenakan jantung ikan nila lebih sulit menyesuaikan dengan lingkungan akibatnya energy yang digunakan lebih banyak dan jantung lebih cepat berhenti.

Pada larutan fisiologis jantung ikan berdetak lebih lama sedangkan pada larutan bersalinitas gerakan denyut jantung cepat tapi lebih cepat berhenti pula. Hal ini karena pada larutan fisiologis terkandung bahan yang komponenya lebih mirip dengan cairan yang ada pada tubuh ikan tersebut. sehingga energi yang digunakan jantung lebih sedikit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. sedangkan pada larutan bersalinitas berbeda dengan kondisi cairan dalam tempat tinggal jantung sebelumnya sehingga jantung perlu menyesuaikan diri kembali dengan lingkunganya. Akibatnya energi jantung banyak digunakan dan bekerja lebih berat akhirnya daya tahan jantung lebih cepat habis. jantung ikan terus dapat berdetak meskipun telah dikeluarkan hal ini karena jantung bekerja dibawah kendali saraf otonom sehingga ikan sendiri tidak dapat mengontrol kerja otot jantung. Faktor faktor yang mempengaruhi detak jantung ikan diantaranya adalah ukuran jantung, suhu, cairan isoosmotik dengan jantung. Fungsi larutan fisiologis diantaranya untuk mengetahui daya tahan maksimal detak jantung diluar tubuh yang dimanipulasi sehingga mirip dengan didalam tubuh ikan diantaranya seperti zat nutrisi, natrium oksigen dll. Peranan jantung sangat penting dalam hubunganya dengan pemompaan darah keseluruh tubuh melalui sistem sirkulasi darah, sirkulasi darah adalah sistem yang berfungsi dalam pengangkutan dan penyebaran enzim, zat nutrisi, oksigen, karbondioksida, garam-garam, antibodi dan senyawa N, dari tempat asal keseluruh bagian tubuh sehingga diperlukan tekanan yang cukup untuk menjamin aliraqn darah sampai ke bagain-bagian jaringan jaringan tubuh (Groman dalam Afandi dan Tang, 2002).




V.    KESIMPULAN

5.1 kesimpulan.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka dapat kita ambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.      jantung merupakan otot lurik yang bekerja seperti otot polos yang terbukti dalam suatu pengamatan.
2.      jantung yaitu sebagai sistem metabolisme dan peredaran darah  yang sangt baik.
3.      Kerja otot tanpa pengaruh bantuan organ tubuh lain tidak akan berjalan dengan baik.
4.      Pada hasil pengamatan, jumlah detakan paling banyak adalah pada larutan fisiologis pada ikan nila.
5.      Sistem kerja jantung ikan memiliki dua mekanisme gerak yaitu sistole (keadaan pada saat ventrikel menyempit dan berkontraksi), dan diastole (keadaan pada saat ventrikel mengembang ban berelaksasi).
6.      larutan yang diteteskan pada cawan petri untuk meletakkan jantung ikan berfungsi sebagai media cadangan energi bagi jantung tersebut.
7.      Jantung pada ikan yang berat tubuhnya lebih tinggi memiliki energi yang lebih banyak untuk berdetak.
8.      Jantung ikan yang berukuran kecil memiliki detak jantung lebih cepat.
9.      Jantung ikan diluar tubuh dapat bertahan paling lama pada larutan fisiologi.


5.2 Saran

Adapun saran demi kemajuan praktikum ini adalah:
1.      Tingkatkan kesadaran dan saling menghormati antara pratikan dan asdos, agar terjaga kerja sama dengan baik.
2.      Asdos mampu menguasai ruangan agar tidak terjadi kegaduhan oleh pratikan.
3.      Harapannya kelengkapan alat alat praktikan dapat terpenuhi hingga memudahkan kita dalam pelaksanaan praktikan.
4.      Saya berharap agar pada praktikum ini ikan yang digunakan ada yang dari laut juga.
5.      Kakak/mbak asdos, harapannya tetap semangat berbagi ilmu dengan adik adiknya, Amin.



DAFTAR PUSTAKA

Dikutip dari artikel berjudul otot lurik. http://www.google.com/otot_lurik.htm. Diakses pada tanggal 26 april 2011 pukul 10.00 WIB.

Hanafiah K.A. 1991.  Biologi ikan air tawar. Rajawali Press. Jakarta.

Jatilaksono, Marsandre. 2007. Kontraksi Otot Jantung Ikan. Dikutip dari http://jlcome.blogspot.com. Diakses pada tanggal 15 Mei 2009. Pukul 13.00 WIB.

Kottelat, M.; A.J. Whitten; S.N. Kartikasari & S. Wirjoatmodjo. 1993. Freshwater Fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Periplus, Jakarta.

Meitanisyah. 2009. Anantomi dan Fisiologi Ikan. Dikutip dari http://www.bloggaul.com/meitanisyah/. Diakses pada tanggal 24 Mei 2009. Pukul 15.00 WIB.

Pakde Sofa. 2008. Materi Pokok Fisiologi Hewan. Dikutip dari http://massofa.wordpress.com/. Diakses pada tanggal 15 Mei 2009 Pukul 13.00 WIB.
Tang. U.M. dan R Affandi. 2001. Biologi Reproduksi Ikan. P2kp2 Unri.