BACTERIAL DISEASE
(Laporan Praktikum Parasit Penyakit Organisme Air)
Oleh
Rahmat Hidayat
0914111069
Kelompok 1
PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2011
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bakteri, dari kata Latinbacterium (jamak, bacteria), adalah kelompok besar Prokariota, selain Archaea, yang berukuran sangat kecil serta memiliki peran besar dalam kehidupan di bumi. Mereka sangatlah kecil (mikroskopik) dan kebanyakan uniselular (bersel tunggal), dengan struktur sel yang relatif sederhana: tanpa nukleus/inti sel, kerangka sel, dan organel-organel lain seperti mitokondria dan kloroplas. Struktur sel mereka dijelaskan lebih lanjut dalam artikel mengenai prokariota, karena bakteri merupakan prokariota, untuk membedakan mereka dengan organisme yang memiliki sel lebih kompleks, yang disebut eukariota. Istilah "bakteri" telah diterapkan untuk semua prokariota atau untuk sebagian besarnya, tergantung pada gagasan mengenai hubungan mereka. Secara umum penyakit dikelompokkan menjadi dua, yaitu penyakit infeksius dan non-infeksius.
Penyakit yang disebabkan oleh bakteri dapat menimbulkan banyak kematian . Kebanyakan agan penyakit bakteri merupakan bagian dari microflora normal dilingkungan perairan dan umumnya dianggap sebagi panthogen sekunder atau oportunistik (bersifat pantogen ketika kondisinya memungkinkan 0). Hanya sedikit bakteri yang bersifat panthogen obligat (bersitaf panthogen pada kondsi apapun). Derajat keganasan panthogen (patogenesitas) disebut dengan virulensi . Virulensi bakteri dapat ditentukan dengan menghitung nilai LD50 (dosis bakteri yang mampu membunuh 50% populasi ikan ). Semakin rendah nilai LD50 maka semakin virulen (ganas), begitu juga senaliknya.
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum yang didapat adalah Agar praktikan dapat memahami metode postulat koch dan praktikan dapat mengidentifikasi jenis bakteri yang menyerang pada ikan lele.
II. TINJAUAN PUSTAKA
klasifikasi ikan lele dumbo adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Sub Kingdom : Metazoa
Phylum : Vertebrata
Class : Pisces
Sub Class : Teleostei
Ordo : Ostariophysoidei
Sub Ordo : Siluroidea
Family : Claridae
Genus : Clarias
Spesies : Clarias sp
Menurut Najiyati (1992), dalam Rustidja (1997) bentuk luar ikan lele dumbo yaitu memanjang, bentuk kepala pipih dan tidak bersisik. Mempunyai sungut yang memenjang yang terletak di seitar kepala sebagai alat peraba ikan. Mempunyai alat olfactory yang terletak berdekatan dengan sungut hidung . Penglihatannya kurang berfungsi dengan baik. Ikan lele dumbo mempuyai 5 sirip yaitu sirip ekor, sirip punggung, sirip dada, dan sirip dubur. Pada sirip dada jari-jarinya mengeras yang berfungsi sebagai patil, tetapi pada lele dumbo lemah dan tidak beracun. Insang berukuran kecil, sehingga kesulitan jika bernafas. Selain brnafas dengan insang juga mempunyai alat pernafasan tambahan (arborencent) yang terletak padainsang bagian atas. Sebagaimna halnya ikan dari jenis lele, lele dumbo memiliki kulit tubuh yang licin, berlendir, dan tidak bersisik. Jika terkena sinar matahari, warna tubuhnya otomatis menjadi loreng seperti mozaik hitam putih. Mulut lele dumbo relatif lebar, yaitu sekitar ¼ dari panjang total tubuhnya. Tanda spesifik lainnya dari lele dumbo adalah adanya kumis di sekitar mulut sebanyak 8 buah yang berfungsi sebagai alat peraba. Saat berfungsi sebagai alat peraba saat bargerak atau mencari makan (Khairuman, 2005).
Bell (1978) mengemukaan bahwa ada tiga kemungkinan penyebab kematian populasi ikan di kolam atau di perairan lain, yaitu stress linkungan atau keracunan, infeksi mikroba (virus, Bakteri, protozoa, dan fungsi), dan infeksi metazoan (coelenterate, cestoda, Nematoda,Acantocephala, Crustacea, dan lain-lain).stress mencakup semua spesiesikan dan dari semua kelompok umur. Ifesimikroba ditandai dengan adanya radang ataulukadi bagian luar (eksternal) atau bagian dalam (internal) tubuh ikan, pendarahan subkutan, pembengkakan, luka, perubahan warna ikan insangyngpucat dan filament yang rusak, sirip-sirip yang cabik, ingsang atau kulit ditutupi oleh mucus (lender), dan lain-lain. Infeksi mikroba biasanya hanya terjangkit pada satu speies dan kematian satu spesies dan kematian biasanya berjalan relative cepat. Infeksi metazoa, baik yang bersifat ekto maupun ynag endoparasit, biasa keduanya dapat dilihat dengan mata telanjang. Efek yang bersifat sublethal berkembang lambat, dan kematian juga lambat. Biasanya hanya satu spesiesikan yang terjangkit, dan kadang-kdang dari satu kelompok umur saja. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri dapat menimbulkan banyak kematian . Kebanyakan agan penyakit bakteri merupakan bagian dari microflora normal dilingkungan perairan dan umumnya dianggap sebagi panthogen sekunder atau oportunistik (bersifat pantogen ketika kondisinya memungkinkan). Hanya sedikit bakteri yang bersifat panthogen obligat (bersitaf panthogen pada kondsi apapun). Mikroorganisme atau parasit ikan merupakan gangguan yang paling serius sebab, sebab penyakit yang disebabkan oleh serangan parasit (virus, bakteri, cacing dll.)sering berakibat fatal dan menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Penyerangan yang disebabkan oleh parasit biasanya tidak dapat diketahui gejalanya sehingga baru sadar ketika ikannya sudah mati dalam jumlah yang besar (Irawan 2000).
III. MATERIAL DAN METODE
A. Waktu dan Tempat
Adapun praktikum mikrobiologi mengenai pewarnaan gram dilaksanakan pada hari senin 7 maret 2011 pada pukul 07.30- 10.00 WIB di Laboratorium Lantai Fakultas Pertanian Unila
B. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang diperlukan dalam percobaan ini adalah : mikroskop, gelas objek, gelas penutup, penjepit kayu, jarum ose, sprayer + alkohol 70%, aquades, bunsen, tisu, pipet tetes, larutan imersi, metilen Blue, Kristal violet, Lugol, Aseton alkohol, Karbon fuksin, ikan lele, aquarium, suntikan, media O/F, tabung gelas.
C. Prosedur Kerja
Postulat koch
1. ambil sample ikan atau udang yang sakit dengan gejala luka-luka atau borok.
2. Amati gejala eksternal dan internal.
3. Isolasi bakteri dari bagian tubuh yang luka dan dari ginjal kedalam medium TSA.
4. Inkubasi selama 24 jam dalam suhu ruang.
5. Pemurnian kultur bakteri.
6. Identifikasi bakteri (cat Gram, bentuk koloni, motilitas,dsb).
7. Kultur dalam media cair (TSB dan NB).
8. Hitung kepadatan bakteri dengan pektrofotometer panjag gelombang 625 nm.
9. Ifeksikan ke ikan yang sama dengan sample dengan dosis 107 sel/ ikan.
10. Amati gejala yang timbul.
11. Jika ikan sakit , isolasi bakteri dari organ yang luka dan ginjal ke dalam medium TSA.
12. Identifikasi bakteri dan cocokkan dengan bakteri yang diinfeksikan.
13. Jika ada kemiripan, ada kemungkina bakteri yang diisolasi adalah bakteri penyebab panthogen pada ikan tersebut.
IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
Data kelompok 1 (ikan lele)
No | Uji Identifikasi Bakteri | Isolat | Aeromonas hydrophila | Vibrio Harvei |
1 | Pewarnaan gram | + | + | - |
2 | OF (uji O/F) | +/+ | +/- | -/+ |
3 | Uji katalase | + | + | + |
4 | Uji motilitas | + | + | + |
Data kelompok 2 (ikan Mas)
No | Uji Identifikasi Bakteri | Isolat | Aeromonas hydrophila | Vibrio Harvei |
1 | Pewarnaan gram | + | + | - |
2 | OF (uji O/F) | +/+ | +/- | -/+ |
3 | Uji katalase | + | + | + |
4 | Uji motilitas | + | + | + |
Data kelompok 3 (ikan gurame)
No | Uji Identifikasi Bakteri | Isolat | Aeromonas hydrophila | Vibrio Harvei |
1 | Pewarnaan gram | + | + | - |
2 | OF (uji O/F) | +/+ | +/- | -/+ |
3 | Uji katalase | + | + | + |
4 | Uji motilitas | + | + | + |
Data kelompok 4 (ikan nila)
No | Uji Identifikasi Bakteri | Isolat | Aeromonas hydrophila | Vibrio Harvei |
1 | Pewarnaan gram | |||
2 | OF (uji O/F) | +/+ | +/- | -/+ |
3 | Uji katalase | + | + | + |
4 | Uji motilitas | + | + | + |
Data Kelompok 5 (udang lobster)
No | Uji Identifikasi Bakteri | Isolat | Aeromonas hydrophila | Vibrio Harvei |
1 | Pewarnaan gram | - | + | - |
2 | OF (uji O/F) | +/+ | +/- | -/+ |
3 | Uji katalase | + | + | + |
4 | Uji motilitas | + | + | + |
B. Pembahasan
Gejala-gejala yang timbul di identifikasi dari luar seperti geraknya lambat di akibatkan proses metabolismenya terganggu oleh bakteri tersebut sehingga semua laju peredarah darahnya membuat pergerakan bakteri menjadi lambat. Gejala yang lainnya seperti berubahanya warna kulit pada ikan, warna kulitnya berubah menjadi lebih pucat dari sebelum di suntikan bakteri di karenakan pigmen-pigmen warna pada ikan telah hancur oleh bakteri. Dari proses praktikum yang kami dapat adalah matinya beberapa ikan secara bertahap. Ikan dikatakan sakit bila terjadi suatu kelainan baik secara anatomis maupun fisiologis. Secara anatomis terjadi kelainan bentuk bagian-bagian tubuh ikan seperti bagian badan, kepala, ekor, sirip dan perut. Secara fisiologis terjadi kelainan fungsi organ penglihatan, pernafasan, pencernaan, sirkulasi darah dan lain-lain. Gejala klinis pada ikan adalah pembengkakan di bawah kulit dan menjadi luka terbuka berisi nanah, darah, dan jaringan yang rusak di puncak luka tersebut seperti cekungan, sirip putus atau patah, pendarahan pada insang, petikiae pada otot, usus bagian belakang lengket dan bersatu, serta pembengkakan limpa dan ginjal yang berkembang menjadi nekrosis atau kernatian jaringan.
Uji Katalase
Selama respirasi aerobik (proses fosforilasi oksidatif), mikroorganisme menghasilkan hidrogen peroksida, bahkan ada yang menghasilkan superoksida yang sangat beracun. Senyawa ini dalam jumlah besar akan menyebabkan kematian pada mikroorganisme. Senyawa ini dihasilkan oleh mikroorganisme aerobik, fakultatif aerob maupun mikroaerofilik yang menggunakan jalur respirasi aerobik. Superoksida dismutase adalah enzim yang bertanggung jawab untuk penguraian khususnya superoksida pada organisme aerob yang bersifat katalase negatif. Produksi katalase bisa diidentifikasi dengan menanmbahkan reagen H2O2 pada suspensi bakteri. Jika dihasilkan gelembung gas, berarti bakteri tersebut mampu memproduksi enzim katalase. Jika tidak dihasilkan gelembung gas berarti uji katalase dinyatakan negatif.
Uji Oksidase
Enzim oksidase memegang peranan penting dalam transport elektron selama respirasi aerobik. Sitokrom oksidase mengkatalisis oksidasi dan reduksi sitokrom oleh molekul oksigen. Enzim oksidase dihasilkan oleh bakteri aerob, fakultatif anaerob, dan mikroaerofilik. Mikroorganisme ini menggunakan oksigen, sebagai akseptor elektron terakhir selama penguraian karbohidrat untuk menghsilkan energi. Kemampuan bakteri memproduksi sitokrom oksidase dapat diketahui dari reaksi yang ditimbulkan setelah pemberian reagen oksidase pada koloni bakteri. Enzim ini merupakan bagian dari kompleks enzim yang berperan dalam proses fosforilasi oksidatif. Reagen yang digunakan adalah tetramethyl-D-phenylenediamine dihydrocloride. Reagen akan mendonorkan elektron terhadap enzim ini sehingga akan teroksidasi membentuk senyawa yang berwarna biru kehitaman. Positif tertunda (warna biru muncul antara 10-60 detik setelah ditetesi) menandakan bahwa bakteri uji memiliki sedikit enzim. Tidak adanya perubahan warna mengindikasikan bahwa uji yang dilakukan negatif (Michael J. Pelczar, Jr. 2005)
Escheria coli atau biasa disebut E. coli adalah salah satu jenis spesies utama bakteri gram negative. Pada umumnya, bakteri bakteri yang ditemukan oleh theodor Escherich ini hidup pada tinja yang berfungsi sebagai decomposer dan dapat menyebabkan masalah kesehatan pada manusia, seperti diare, muntaber dan masalah pencernaan lainnya. E. coli banyak digunaka dalam teknologi rekayasa genetika. Biasa digunakan sebagai vector untuk menyisipkan gen-gen tertentu yang ingin untuk di kembangkan. E. coli dipilih karena pertumbuhannya sangat cepat dan mudah dalam penangananya (Gupte, MD Satish. 1990). Pada Uji Motilitas bakteri, Hasil percobaan pada tiap kelompok ada yang sama dan ada yang berbeda – beda pula tetapi masih terkait dengan sifat pertumbuhan bakteri itu sendiri ada yang bersifat motil dan ada pula yang bersifat nonmotil. Bakteri yang tumbuh menyebar dari garis tusukan berarti bakteri bersifat motil dan pada bakteri
Dapat dilihat contohnya pada Staphylococcus, bakteri ini mudah tumbuh diberbagai media pada kondisi aerob dan suhu optimum 37oC. Staphylococcus dapat memfermentasikan karbohidrat, menghasilkan asam laktat, menghasilkan gas, dan merupakan bakteri katalase positif. Uji Motil dilakukan untuk mengetahui apakah bakteri bersifat motil atau non motil, yaitu dengan menginokulasikan bakteri pada medium semi solid dan diinkubasi selama 1x 24 jam pada suhu 37o C. Kemudian diamati untuk melihat pertumbuhan bakteri. Pada percobaan ini, hal yang utama dilakukan adalah menginokulasi bakteri AH yang diambil pada biakan murni sebanyak masing-masing satu ose. Kemudian bakteri disuspensikan dengan aquades yang terdapat pada tabung reaksi yang berbeda. Masing-masing bakteri diinokulasi dengan cara ditusukkan secara tegak lurus ke dalam media dan diinkubasi selama 18-24 jam.
Isolasi penyakit bakteri biasanya dilakukan pada organ dalam meliputi limpa, ginjal, hati dan darah. Isolasi yang dilakukan pada praktikum ini dilakukan pada organ target yaitu ginjal karena di ginjal mengalami pembengkakan. Pada tahapan postulat koch “Mikroorganisme penyebab harus dapat diisolasi dari penderita penyakit dan ditumbuhkan dlm laboratorium”.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa:
1. Warna dan laju pergerakan pada ikan yang terserang bakteri berubah, sperti warnanya berubah menjadi pucat dan pergerakkannya menjadi lambat.
2. Uji biokimiawi dilakukan untuk mengetahui sifat biokomia bakteri yang berbeda.
3. Bakteri negatif merupakan bakteri motil karena memiliki flagella, sedangkan bakteri ( + ) merupakan bakteri non motil.
4. Bakteri A. Hidropilla memiliki kemampuan membunuh 80% dari populasi ikan.
5. Untuk menentukan bakteri bersifat pantogen atau bukan dapat dilakukan dengan postulat Koch.
B. Saran
Saling menghormati dalam bahasa dan prilaku antara praktikan dan asdos agar lebah efisien lagi saat praktikum sehingga praktikan agar lebih efektif dan paham pada saat melakukan praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
(Anonim).2011.Penyakit Ikan .http://www.o-fish.com/Artikel /Penyakit Ikan.php.(8 April 2011) pkl 08.00 WIB
Ghufran H,M. K Kordi. Penanggulangan Hama dan Penyakit Ikan. Jakarta. Rineka Cipta. 2004.
Kakkilaya. Radionuclide Scanning. Diakses tanggal 01 may 2010 pukul 21.00 dari http://members.aol.com
Levine, N. D. 1990. ParasitologiVeteriner. GadjahMadaUniversityPress.
Yogyakarta.
Yogyakarta.
Mustopa. 2008. Pengaruh Planton Dalam Pemijahan Ikan Nilem.(skripsi). Fakultas Padjajaran Jurusan Perikanan.
Najiyati, S. 1992. Memelihara Lele Dumbo di Kolam Taman. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sumartono. 2001. ParasitologiUmum. Fakultas Kedokteran Hewan UGM.
Yogyakarta.
Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar